Beberapa waktu yang lalu saya sering shalat dhuhur dan ashar di Masjid Al Hasanah yang terletak di utara pusat perbelanjaan Mirota Kampus, di depan FMIPA UGM kampus selatan. Setiap shalat di sana, saya selalu melihat ada seorang bapak-bapak penarik becak yang berusia setengah baya. Sularno, begitu beliau menyebut namanya ketika kami mulai berkenalan dan ngobrol di serambi masjid.
Saya perhatikan bahwa beliau punya kebiasaan datang ke masjid sebelum azan dikumandangkan. Setibanya di masjid, pak Larno segera mengganti ‘pakaian dinas’-nya dengan baju koko dan sarung. Setelah itu beliau mengambil wudhu, lalu shalat sunat tahiyatul masjid sambil menanti azan.
Begitu azan, beliau kembali berdiri tegak untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib, terkadang dua rakaat, terkadang empat rakaat. Tergantung lambat atau cepatnya muadzin mengumandangkan iqomat. Lalu, seperti jama’ah lainnya, pak Larno juga berzikir setelah shalat, dan kemudian bangkit lagi untuk shalat sunat rawatib.
Jadi kalau dihitung untuk satu kali waktu ini saja beliau sudah shalat minimal sepuluh rakaat. Dua rakaat tahiyatul masjid, dua atau empat rakaat rawatib ba’diyah qobliyah, shalat dhuhur empat rakaat, dan terakhir dua rakaat ba’diyah. Semuanya itu menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam.
Kalau ada yang beribadah begitu banyak untuk sesekali waktu kemudian besoknya kembali malas, maka ini sudah sering kita temukan. Tapi pak Larno ini begitu konsisten, setiap hari begitu. Kemarin ibadahnya begini, hari ini begini, besok ya begini lagi. Istiqamah dalam ibadah, begitu orang-orang menyebutnya.
Dan sebagai tambahan, beliau melakukannya dengan begitu khusyuk. Tidak tergesa-gesa seperti orang yang dikejar waktu. Tidak seperti sebagian kita yang mungkin asal shalat saja karena waktu istirahat yang terbatas, atau ingin segera menyelesaikan urusan ini itu disela-sela waktu rehat yang diberikan oleh kantor.
Mungkin pak Larno tidak butuh ketergesaan karena beliau yakin Allah Maha Kaya sehingga bisa memberikan dia sedikit karunia yang bisa dia bawa pulang untuk istri dan anak-anaknya di Gunung Kidul sana. Pak Larno mungkin juga sadar bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah perlombaan. Perlombaan untuk mengumpulkan point yang akan di bawa nanti ke alam baka, di mana tiap point akan ditukar dengan ampunan dan surga Allah. Pak Larno nampaknya ingin menjadi pemenang perlombaan ini.
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al Hadid: 21)
isin..isin..
malu..malu..
ashamed…
malu hati
haya’
wirang
Masya Allah, moga kita mampu seperti pa Larno, di anugerahi rasa membesarkan Allah. merenung…malu jadinya..apa karena masih muda ya, sibuk kejar dunia.
Hmmm susahnya bagi waktu, harusnya jadi prioritas utama, tapi kadang sok sibuk sampe sholat diakhir2 ato g keburu-buru …wuks2…hrs berubah nih..semangat!!!Bismillah..
Dua rakaat tahiyatul masjid, dua atau empat rakaat rawatib ba’diyah, shalat dhuhur empat rakaat, dan terakhir dua rakaat ba’diyah. Afwan yang pertama itu qabliyah kan bukan ba’diyah?