Skip to content


Menjaga Status ‘Islam’ pada Diri Kita

islamOleh: Wira Mandiri Bachrun

Sadarkah Anda bahwa terkadang kita tidak menjaga status ‘Islam’ yang melekat pada diri kita? Bagi saya, mengesankan sekali ucapan Dave Chapell, seorang artis Hollywood yang baru masuk Islam beberapa tahun yang lalu, ketika beliau diwawancarai oleh Majalah Times,

“I don’t normally talk about my religion publicly because I don’t want people to associate me and my flaws with this beautiful thing. And I believe it is beautiful if you learn it the right way.”

“Biasanya saya tidak mau bicara tentang agama saya (Islam -pent.) secara terbuka karena saya tidak ingin orang mengait-ngaitkan saya dengan sesuatu yang indah ini. Dan saya percaya agama ini indah jika Anda mempelajarinya dengan metode yang benar.”

Brother Dave berusaha agar citra agama ini tidak tercemari dengan tindak tanduknya yang mungkin masih dalam proses belajar Islam yang benar.

Nah sekarang kembali ke kita, kaum muslimin di negeri ini, terkadang kita tidak sadar bahwa kita menyandang status sebagai seorang muslim, di mana banyak orang, terutama non muslim, melihat tindak-tanduk kita, menilai sikap dan akhlak kita. Baju gamis yang kita kenakan, jenggot yang mungkin kita pelihara, kening kehitaman bekas sujud, jilbab yang dipakai oleh wanita muslimah, adalah simbol-simbol keislaman yang seharusnya kita jaga dengan akhlak yang baik, sikap dan lisan yang jujur, amanah, dan sederet akhlak mulia lainnya, bukan kita kotori dengan perilaku yang tidak terpuji.

Citra kaum muslimin telah begitu tercoreng dengan banyaknya aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam (padahal ajaran Islam yang benar justru mengecam aksi tersebut), dan tercoreng pula dengan sederet kasus korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum dengan nama Islam.

Kita kadang lupa menjaga status keislaman kita dengan bertindak semau kita seolah tidak ada norma yang membatasi. Inilah kelemahan takwa pada hati kita, yang seharusnya kita perbaiki agar kaum muslimin menjadi yang terdepan, menjadi contoh teladan dalam segala sisi. Bukankah Allah berfirman,

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj: 32)

Walaupun ayat ini berkaitan tentang ibadah haji, akan tetapi Asy Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan syiar-syiar agama adalah tanda-tanda keislaman kita yang nampak, apapun itu bentuknya. Tanda-tanda keislaman yang seharusnya kita jaga.

Semoga tulisan ini menjadi sebuah koreksi, terutama bagi diri saya dan rekan-rekan muslim lainnya. Semoga Allah melindungi kita dari akhlak yang buruk. Semoga Allah ta’ala menganugerahkan kepada kita akhlaq yang mulia sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi yang lainnya. Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, dan pengikutnya.

Catatan:
Artikel ini adalah repost dari tulisan saya di FB beberapa waktu yang lalu. Saya posting lagi di blog ini agar bisa diambil ibrahnya oleh teman-teman yang lain.

Posted in Islam.

Tagged with , .


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Bangkit says

    Baarokallohufiikum. Bermanfaat ra..,trus mnyerbarkn ilmu yg bermanfaatny,alhamdulillaah bbrpa prtanyaan dlm hti ana trjwb,wlopn klihatn simpel bahasnx tp brmakna, kata2 dave it sprt yg hti an khwtirkn slma ini..,islam ini sgt indah tp krn qt bru mngenalx or mndalamix dn ortu or lingkungn/tmn krg mndukung srta krg pngrtianx qt akn pntingx akhlaq ato mbiasakn yg baik agr mlawan tabiat yg dr dl tbentuk mbuat qt jtuh bngun dlm mjaga status islam qt.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.