Beberapa hari yang lalu, di sela-sela rehat belajar, saya sempat membaca asal usul kota Pontianak di sebuah forum mahasiswa Kalimantan Barat. Ternyata saya baru tahu bahwa Kesultanan Pontianak (sekarang kota Pontianak) adalah sebuah kesultanan yang dibangun oleh keluarga Arab dari Hadramaut, yaitu keluarga Al Kadri.
Salah seorang raja dari kesultanan ini yaitu Sultan Hamid Al Kadri II adalah desainer lambang republik ini, Garuda Pancasila. Fakta yang cukup mencengangkan bagi sebagian orang bahwa ternyata lambang negara ini ternyata didesain seorang Arab, atau setidaknya seorang pejuang pergerakan keturunan Arab yang sepertinya jarang diangkat di dalam pelajaran sejarah. Walaupun mungkin banyak ditambahi bumbu-bumbu mitos dan legenda, tapi kisah pembentukan kota Pontianak dan peran Kesultanan Pontianak dalam sejarah NKRI ini cukup menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.
Sekarang saya ingin bicara tentang kota tempat saya lahir, Pangkalpinang. Bagaimana asal-usul kota ini? Sewaktu saya kecil, saya pernah membaca sebuah buku yang menukilkan sejarah kota Pangkalpinang. Kalau tidak salah judulnya “Pangkalpinang dalam Angka” yang ditulis pada masa kepemimpinan Walikota Rosman Djohan dengan kata pengantar dari H.M Aroeb. Dulu saya membaca di perpustakaan SDN 7 Pangkalpinang, di daerah Semabung. Kebetulan bibi saya guru di situ.
Di buku itu dikisahkan bahwa dulu di sepanjang Sungai Rangkui yang membelah Kota Pangkalpinang tumbuh pohon-pohon pinang. Mungkin banyaknya pohon ini berkaitan dengan kebiasaan wanita-wanita Melayu di Bangka yang suka menyirih. Menyirih yaitu mengunyah pinang, kapur, gambir, cengkeh, dan tembakau yang dibungkus dengan daun sirih. Walaupun rasanya agak pedas, namun dipercaya bahwa kegiatan menyirih ini dapat menjaga kesehatan mulut.
Kembali ke cerita Sungai Rangkui, dulu Sungai Rangkui tidaklah sedangkal sekarang. Beragam kapal dan perahu bisa melayari sungai ini. Nah ketika mereka hendak menepi ke kota, maka bersandarlah kapal dan perahu tadi ke dermaga-dermaga kecil di tepian Sungai Rangkui tadi. Agar tidak lepas, para pemilik perahu pun menambatkan perahu mereka di pangkal pohon-pohon pinang tersebut. Lama kelamaan daerah di sepanjang Sungai Rangkui ini pun dikenal dan berkembang menjadi Pangkalpinang.
Meski masuk akal, cerita ini kemungkinan hanya bersumber dari cerita tutur yang tidak jelas juga sumbernya dari mana. Tapi yang jelas lebih logis daripada kisah asal usul Gunung Tangkuban Perahu atau Surabaya.(wr1)
intinya….apakah orang arab juga yg membangun kota pangkalpinang?